Rabu, 07 Agustus 2013

DASSAULT RAFALE, SEXY GIRL ANDALAN NEGERI MODE PERANCIS

Location: Paris, France

Lama tak berjumpa yah? Saya memang ga terlalu sering posting di blog, maaf yah, sampai-sampai blog ini terbengkalai sekian lamanya, yah kalo dihitung-hitung sekitar 3 bulan lebih dan ini pun artikel ke-31 saya, padahal aslinya ke-40 karena ada yang failed to lauch alias gagal meluncur dan ada juga yang error terpaksa harus “masuk kandang”, hahah. Apa boleh buat, saham pengunjung semakin turun, alhasil disini semakin sepi #okeyface, (Ane ga tau dari tadi gw bilang apa? :v)
Nih gan, ane mau posting tentang pesawat tempur favorit ane dari negeri Perancis yang terkenal, namanya Dassault Rafale.. (#You don’t say, tadi udah dijelasin diatas, bego’ =.=). Oh iya udah dijelasin yah?  #Herp.  Ya udah deh, ga usah panjang lebar, yang merasa military fanboys, (hahay!) Nih, ane nemu infonya dari Majalah Angkasa, semoga agan-agan semua dapat menikmati sajian makanan ini... #plakk sekian... :v

Rafale yang muncul duluan, operasional lebih awal bahkan meraih cap “combat proven” daripada rivalnya, Eurofighter Typhoon. Walaupun begitu, nih pesawat belum juga laku-laku yah?

Pada tipe pesawat yang ada di Rafale itu ada 3 varian umum, yaitu tipe:
Rafale B (Biplace), varian Rafale kursi ganda.
Rafale C (Chasseur) varian Rafale kursi tunggal 
             B dan C dioperasikan oleh Armee de l’Air (AU)
Rafale M (Marine) varian Rafale kursi tunggal untuk Marine Nationale (AL). Struktur rangka roda pendarat diperkuat dan ada tambahan arrestor hook atau pengait kabel pendaratan lebih besar serta kaitan untuk ketapel take-off di roda depan. 

Varian lainnya (non-komersil) ada:
Rafale A (Prototype), kembangan Rafale pertama kali setelah keluar dari EFA.
Rafale D (Discret) kembangan tahun 1990-an, semi-stealth.
Rafale N (Navy) varian Rafale tandem seater AL. Karena anggaran terbatas, jadinya batal deh. 
Rafale R (Reconnaissance) varian pesawat intai tempur.

Semua pelatihan pilot C dan M menggunakan Rafale B untuk konversi.

Rafale B tandem seater tak Cuma dipakai buat konversi sama latih tempur aja, saat operasi beresiko tinggi seperti Perang Teluk 1991 dan Konflik Balkan perlu adanya awak tambahan, makanya Dassault menggadang Rafale B full combat layaknya Rafale C. Dari perencanaan yang diketahui, jumlah Rafale B nantinya bisa capai 60% dari seluruh order Rafale untuk AU Perancis.

Program fighter Rafale dimulai saat pisah jalan ama teman-temannya di program European Fighter Aircraft (EFA) yang akhirnya jadi rival beratnya, Eurofighter Typhoon. Saat itu kelak yang bakal mainin si Rafale yaitu AU dan AL mewanti-wanti perancang bahwa mereka ingin jet multirole yang gak hanya “lebih canggih” daripada Mirage 2000, tapi harus penuhi 4 kriteria syarat:
Commonality Airframe (kesamaan airframe) setinggi/sesama mungkin dengan varian yang akan digunakan AL dan AU, varian single ataupun double/tandem seater.
Multirole Ability yang luas, mulai dari air supperiority, ground attack, intai, hingga serang nuklir.
Upgrade Ability simpel, dengan sesedikit mungkin bahkan tanpa mengubah struktur pesawat.
Kelas 9 Ton, di kisaran 9.000 Kg untuk varian B dan C, sedangkan M (AL) ada penyesuaian perangkat dengan kapal induk,  diijinkan melebih limit namun tak sampai 11.000 Kg.

Perkara “Berat badan” inilah yang membuat Perancis hengkang dari playgroup EFA tahun 1985 yang terdiri dari Perancis, Inggris, Jerman, Spanyol, dan Italia karena konsepnya saja udah lebih berat hampir 2 ton (hampir sekitar 11.000 Kg) dari spek teknis yang dinginkan Perancis. Lagipula yang bersikeras cuma Perancis saja yang pengen dapat dioperasikan di kapal induk, yang lainnya tetep adem-adem aja, tuh :v soalnya pengennya lebih menekankan jangkauan terbang lebih jauh dan daya muat senjata tinggi, jadinya bentrok dah....

RAFALE SPECIFICATION

Perusahaan utama : Dassault Aviation – Perancis
First flight : 4 Juli 1986 (prototype single seater Techno Dem. Rafale A)
19 Mei 1991 (prototype operasional single seater)
Operasional : Desember 2000 (Rafale M (AL))
Mesin : 2 x Snecma M88-2 afterburning turbofan
Crew                  : 1 (Rafale B dan C), 2 (Rafale M)
Panjang/Sayap/Tinggi          : 15.27 m / 10.80 m / 5.34 m
Empty / Loaded weight   : C: 9,500 kg / B: 9,770 kg / M: 10,196 kg – LW: 14,016 kg
Max. takeoff weight          : 24,500 kg (C/D), 22,200 kg (M)
Max speed                  : High/Low altitude: Mach 1.8+ / Mach 1.1+
Range / Combat radius : 3,700+ km / 1,852+ km (dengan 3 drop tank, sepasang rudal SCALP-
EG / 4 bom GBU-12 dan 4 rudal AA )
Ketinggian maks. : 16,800 m 
Daya tanjak : 304.8+ m/det
G-Limit : -3,2G - +9G
Persenjataan
Air-to-Air Missile : Magic-2, MICA EM, MICA IR, MBDA Meteor
Air-to-Ground Missile : APACHE, SCALP-EG, AM-39 Exocet, ASMP, ASMP-A, Brimstone
Bomb : SBU 38/54/64 AASM HAMMER, GBU-12 Paveway II / -24 Pave. III



Airframe yang pas mantab

Dassault membuktikan mampu menjawab 4 challenge dari AU dan AL Perancis, dimana para insinyurnya mampu bikin desain pesawat berukuran compact, namun punya performa aerodynamics tinggi. Konfigurasi posisi sayap “mid-wing” berbentuk delta besar plus sirip depan alias canard, serta posisi masuk udara ke mesin atau air intake di “pipi bawah” menjadikan Rafale muat berbagai muatan eksternal (external tank maupun persenjataan).

Soal kelincahan, Rafale membuat takjub kagum setiap pasang mata yang melihatnya. Di serangkaian air-show atau pertunjukkan kedirgantaraan, Rafale yang memasang 3 drop tank, 4 rudal Air-to-Air MICA, serta 2 rudal jelajah SCALP EG a.k.a Storm Shadow, itupun dia masih bermanuver lincah.
AA - MICA
Cruise missile SCALP EG

Posisi air intake Rafale yang unik dianggap sukses diintegrasikan dengan aerodynamics perform-nya. Aliran udara efisien masuk ke mesin meski posisi pesawat pada high-angle-of-attack. Pemasangan canard membuat stall speed Rafale tergolong rendah sehingga kecepatan minimum pendaratan (approach speed) diatas kapal induk dapat dijaga pada kisaran 120-130 knot.

Dassault benar-benar memperhitungkan perkara lini produksinya. Menjelang final phase pengerjaan rangka pesawat, baru ada pembeda spesifik varian yang bersangkutan. Intinya fase akhir yang menentukan varian mana yang bakal diproduksi. So, jika misal awalnya pesan Rafale B tiba-tiba ganti ke C, bisa diubah kok, perubahannya dapat diakomodasi dan tak mengganggu jalannya produksi asalkan pemesannya nggak disaat final alias terlambat ganti varian. Berarti, kesamaan airframe yang tinggi (klaim lebih dari 85%) bukan sekedar hoax aja.
Si seksi Rafale yang telah menandingi F-16 sebagai "Center-nova" para fotografer dunia.
Satu hal yang mungkin jadi tradisi khas Negeri Mode Perancis, alutsistanya tetap memperhatikan estetika keindahan. Dulu banyak yang mengakui postur tubuh General Dynamics F-16 itu seksi, itu kan dulu, beda dengan sekarang F-16 udah lewat, cyiin :v . Hal tersebut dibuktikan oleh para fotografer yang menyatakan kalau dibenaknya, “Rafale sudah menendang F-16 dari catwalk”, dan dia layak diperhitungkan sebagai hottest and sexiest aircraft untuk diabadikan kamera, dan kelak mungkin bakal mendapat gelar the most beautiful-to-photographed fighter jet.

TOPIC CORNER: WHY... ?

Memiliki kecanggihan, menyaksikan kehebatannya aksinya dalam manuver lincahnya, hampir semua tanya, kok ga’ laku? Belum satupun order yang masuk ke direksi Dassault dari luar Perancis, beda sama saudaranya, Typhoon udah laku di Austria dan Saudi Arabia (diluar Inggris, Jerman, Spanyol, dan Italia sebagai aliansi produksi). Rafale juga kalah tender dari F-15K Slam Eagle di Korea Selatan dan juga kalah dari F-15SG di Singapura.
Perbandingan yang setara antara 2 kubu.
Banyak analisis menduga, selain faktor politik yang begitu kental tentang pengadaan alutsista, masalah harga tak terlalu menguntungkan Rafale yang berada di kisaran USD 80-90 juta, Typhoon USD 90-110 juta (tergantung kelengkapan dan subvarian) dinilai terlalu dekat. Selain itu, Rafale beda kelas”, Rafale sekelas medium aircraft dengan Boeing F/A-18 Hornet, Typhoon sekelas heavy jet dengan F-15 Eagle. Akhirnya banyak negara memilih Typhoon karena jangkauan terbang lebih jauh serta daya angkut senjata lebih berat.

Panavia Tornado GR.4
Rafale dapat melenggang sendirian dalam berbagai misi (tanpa kawalan) karena omnirole, Typhoon hanya bisa patroli udara, sebagian besar operasi serang darat dilakukan oleh Panavia Tornado GR.4 yang mungkin dianggap lebih matang ketimbang Typhoon Inggris yang masih subvarian Tranche-2, belum full multirole seperti Tranche-3 kelak.




Akhirnya laku juga.. :v

Potensi jualnya sekarang ada di antaranya Kanada, Kuwait, Qatar, Brazil, Malaysia dan India. India melakukan tender 126 jet pengganti Mikoyan Mig-21 Fishbed yang mulai usang dalam program MMRCA (Medium Multirole Combat Aircraft), Rafale bersaing ketat dengan Typhoon setelah menyingkirkan MiG, Sukhoi, Boeing, Lockheed Martin yang akhirnya dimenangkan oleh Rafale pada akhir Januari 2012 dengan kontrak mencapai USD 12 miliar AS (Rp 108,1 triliun). Brazil kemungkinan juga akan memilih Rafale sekitar 36 unit setelah seorang pejabat senior Brazil mengatakannya kepada pers pada Februari 2012. Tetangga jiran kita, Malaysia juga sempat melirik Rafale sebagai pengganti 18 Mikoyan MiG-29 yang mulai uzur di skuadron RMAF dalam program tender MMRCA, Dassault menawarkannya dengan jaminan Transfer of Technology (ToT) dan dibuat di lokal.

Advanced Avionics

Berbicara soal avionik pada tubuh Rafale, khususnya pada kelengkapan sensor, Rafale dapat dikatakan sebagai pesawat tercanggih diantara teman-temannya di Eropa seperti Eurofighter Typhoon, Saab JAS-39 Grippen, Boeing F/A-18 E/F Super Hornet dan Mikoyan MiG-35. Di antara mereka, hanya Rafale yang start duluan menggunakan radar jenis baru PESA (Passive Electronically-Scanned Array).

Avionik Rafale

Radar RBE2
Radar RBE2 (Radar a Balayage Electronique 2) buatan Talas.. eh Thales ini sering diremehkan para rivalnya yang menyebutkan bahwa radar konvensional (jenis mechanically-scanned array) aja masih lebih baik ketimbang PESA (kelihatannya mereka semua pada sirik yah? :v) . Mereka bilang kalo radar AESA (active electronically-scanned array) lah merupakan radar masa depan, bukannya PESA. Namun Perancis ‘enjoy-enjoy aja’, ga peduli ama tetangga kiri-kanan, maju terus dah.. :D karena merasa bisa memanfaatkan PESA sebagai milestone alias batu loncatan sebelum melansir jenis AESA. Dan kelihatannya, Perancis bakal melenggang duluan meninggalkan pemainnya menggunakan radar AESA ketimbang lainnya.

Radar AESA
Thales sudah menyelesaikan program uji lapangan RBE2-AA (active array) yang berjenis AESA dan menerapkannya pada Rafale tahun 2012. Kalau RBE2 dapat mengendus 40 sasaran berbeda dan me-lock 8 di antaranya, RBE2-AA jauh lebih baik dengan menawarkan fitur menarik seperti Active electronic scanning, bandwidth lebar, pelacakan sasaran dan ECCM processing, fully programmable, penghitungan penjejakan, peta beresolusi tinggi. Namun Perancis mengakui kalah start daripada AS dengan radar AESA-nya yang sudah dulu beroperasi dan dipasang pada fighter-nya tahun 2010. 
IRST
OSF (Optronique Secteur Frontal)
Andalan si Sexy Girl lainnya ini, ada perangkat avionik canggih seperti OSF (Optronique Secteur Frontal) atau FSO (Front Sector Optronic) berupa sensor pasif mirip IRST (Infra-Red Search and Tracking) pada fighter Rusia Sukhoi Su-27/30/35 dan Mikoyan MiG-29/35. Bedanya, pada OSF selain  sensor infra merah pasif terdapat kamera video resolusi tinggi dan sangat berguna untuk misi penyergapan (interception) dadakan di mana Rafale dapat mengunci sasaran tanpa diketahui oleh targetnya. Jika RBE2-AA yang anti-jamming dan sulit dideteksi RWR (Radar Warning Receiver) sudah terpasang pada Rafale, kemampuan sensornya terbilang salah satu yang tercanggih di antara pesawat tempur lainnya, mungkin kelak bakal dikalahkan oleh Lockheed Martin F-35 Lightning II. Bahkan dari segi kelengkapan sensor pasif, Lockheed Martin F-22 Raptor pun saja masih kalah.

Cek bagian-bagian Rafale disini.

Sensor bagian belakang Rafale
SPECTRA
Rafale juga dilengkapi perangkat perang elektronik (EWS/Electronic Warfare Suite) SPECTRA (Systeme de Protection et d’Evitement des Conduites de Tir du Rafale) atau Self-Protection Equipment Countering Threats to Rafale yang kurang lebih artinya “Perangkat pertahanan diri dari serangan terhadap Rafale”. SPECTRA bukan hanya memfungsikan Rafale menjalankan misi SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses) secara khusus. Saat dogfight sekalipun, SPECTRA mampu memberikan info pada pilot tentang ancaman terkini dari darat maupun udara.

Link-16 Datalynk system.
Dalam exercise perang di Uni Emirat Arab tahun 2011 lalu, kecanggihan ini terbukti saat dalam simulasi lapangan, Rafale berhasil mendeteksi ancaman pertahanan udara termodern, melokalisasinya, dan mengarahkan guided bomb (bom pandu) ke sasaran tersebut. Pilot tinggal menekan tombol fire saja. Yang lainnya F-16CJ AU AS baru dapat mendeteksi dan melokalisasinya kala dilengkapi pod HTS (HARM (High-speed Anti Radiation Missile) Targetting System).

Pod HTS
Fitur hebatnya Rafale lainnya lagi, semua avionik dan sensor terintegrasi penuh dan seluruh data dapat disajikan pada head-level display di kokpit pesawat, dengan rincian saran dan prioritas menghadapinya (engagement priority). Dan masih dapat terhubung dengan sesama rekan lain (rekan Rafale, pesawat radar AWACS, ataupun kapal perang) berkat Link-16 datalink system. Aspek yang dikenal dengan istilah network-centric and censor fusion inilah yang merupakan salah satu keunggulan dari F-35 Lightning II dan F-22 Raptor.
HOTAS Aircraft Stick
Perkara penggunaan oleh pilot pun diperhatikan oleh insinyur perancangnya. Pilot sangat dimudahkan, yah mungkin dimanjakan bisa jadi yah... dalam memanfaatkan seluruh kelengkapan perangkat di cockpit. Man-machine interface atau “Antarmuka manusia-mesin” ini juga merupakan salah satu keunggulan Rafale yang tongkat stick kemudinya menggunakan sistem HOTAS (Hands-on Throttle and Stick) mirip F-16 tersebut.

Censor fusion dan Man-machine interface membuat Dassault berani sesumbar atau membusungkan dada bahwa Rafale adalah “Omnirole” fighter alias “Segala peran” (simpelnya: bisa peran apa aja), tak hanya “Multirole” (banyak peran). Ini karena dalam satu flight, Rafale dapat mengerjakan beberapa operasi sekaligus. Fighter masa kini memang dirancang untuk bisa multi-peran, namun konfigurasi sensor berikut armament-nya atau persenjataan bawaannya terbatas serta harus direkonfigurasi dan disesuaikan di darat sebelum melakukan operasi terkait.

Rafale bisa apa saja, melakukan ground-attack, memantau situasi sekitar, siaga menghadapi ancaman fighter lawan, sekaligus memantau ancaman air defense. Jadinya bukan suatu hoax alias ocehan belaka bila Rafale dapat melakukan operasi sekali terbang.
Man-machine interface
AASM Missile
Di Libya disaat Barat bersama AS melakukan operasi Odyssey Dawn dengan No-Fly Zone Warning sebagai upaya untuk melengserkan pemimpin Libya saat itu, Muammar Khadafi, kala serangan awal di Kota Benghazi, Rafale dibekali bom berpenuntun AASM (Armement Air-Sol Modulaire / Air-to-Ground Modular Weapon) (bisa untuk serang darat maupun SEAD), Air-to-air missile MICA dan cruise missile SCALP EG (Système de Croisière Autonome à Longue Portée – Emploi Général / General Purpose Long Range Standoff Cruise Missile). Serasa belum cukup, Rafale dapat membopong 3 tangki bahan bakar eksternal, meski dia dapat mengisi bahan bakar di udara karena sudah dilengkapi fixed refueling probe di depan kanan kokpit.

Kesuksesan dalam operasi di Afghanistan dan Libya, dapat diintegrasikan dengan rudal produk luar dengan interkoneksinya standar dengan NATO, upgrade mudah, persenjataan banyak dan ready, omnirole, serta dilengkapi fitur menarik, membuat Dassault Rafale mulai dilirik dan diperhitungkan sebagai salah satu pesawat kelas wahid di dunia.


So, guys, akhirnya udah selesai juga nih artikel, semoga Anda puas dengan topik kali ini, yah... walaupun ini bukan artikel asli saya, namun saya telah menyuntingnya ga asal jiplak aja. Saya selalu  menghargai pemilik asli karena merekalah yang susah payah buat. Kalau saya meng-copas, saya akan menghadirkan link sumber datanya. Oke, ane cabut dulu yah... see yah... ;)

Source:
     Majalah Angkasa No. 10 Edisi Juli 2011 Tahun XXI
     id.wikipedia.org – en.wikipedia.org
     www.google.com
     semua websites yang mendukung kelengkapan materi blog ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan anda berkomentar disini menggunakan kata dan kalimat yang jelas agar dapat dibaca oleh visitor yang lain. Tanpa verification code dan tanpa menunggu moderasi, komentar anda langsung tertera. Terima kasih... :D